Banda Neira adalah duo musik folk, akustik, dan chamber pop puitis asal Bandung yang dibentuk pada tahun 2012 oleh Ananda Badudu (vokal/gitar akustik/terompet) dan Rara Sekar (vokal/xylophone/piano). Mengusung konsep musik yang sederhana namun sarat kedalaman emosi, lirik sastrawi yang magis, dan harmoni vokal lembut, Banda Neira menjadi ikon musik folk independen paling dicintai di Indonesia.
Karya-karya mereka yang diabadikan dalam album Berjalan Lebih Jauh (2013) dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016) melahirkan deretan lagu abadi bangsa, di antaranya 'Sampai Jadi Debu' (duet bersama Gardika Gigih), 'Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti', 'Hujan di Mimpi', 'Senja di Jakarta', 'Sebagai Kawan', dan 'Matahari Pagi'.
Bagi pecinta instrumen gitar akustik dan piano, lagu 'Sampai Jadi Debu' dan 'Yang Patah Tumbuh' adalah materi petikan fingerstyle akustik paling populer yang sangat sering dimainkan dalam momen pernikahan, refleksi diri, dan sesi santai.
Banda Neira adalah duo musik folk, akustik, dan chamber pop puitis asal Bandung yang dibentuk pada tahun 2012 oleh Ananda Badudu (vokal/gitar akustik/terompet) dan Rara Sekar (vokal/xylophone/piano). Mengusung konsep musik yang sederhana namun sarat kedalaman emosi, lirik sastrawi yang magis, dan harmoni vokal lembut, Banda Neira menjadi ikon musik folk independen paling dicintai di Indonesia.
Karya-karya mereka yang diabadikan dalam album Berjalan Lebih Jauh (2013) dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016) melahirkan deretan lagu abadi bangsa, di antaranya 'Sampai Jadi Debu' (duet bersama Gardika Gigih), 'Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti', 'Hujan di Mimpi', 'Senja di Jakarta', 'Sebagai Kawan', dan 'Matahari Pagi'.
Bagi pecinta instrumen gitar akustik dan piano, lagu 'Sampai Jadi Debu' dan 'Yang Patah Tumbuh' adalah materi petikan fingerstyle akustik paling populer yang sangat sering dimainkan dalam momen pernikahan, refleksi diri, dan sesi santai.